Close Menu
    TRENDING

    Khutbah Jumat: Ramadhan Tiba, Saatnya Hati Bergembira dan Amal Dilipatgandakan

    Februari 20, 2026

    Kisah Seorang Hamba Diampuni Karena Kemuliaan Bulan Ramadhan

    Februari 20, 2026

    Kultum Ramadhan: Puasa dan Transformasi Spiritual Seorang Mukmin

    Februari 20, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Daarut Tauhied KemiriDaarut Tauhied Kemiri
    Subscribe
    • Profil
      • Pesantren Daarut 8 Tauhied Kemiri
        • Sambutan Pengasuh
        • Tentang Daarut Tauhied 8 Kemiri
      • Unit Pendidikan
        • SMK VIP Ma’arif NU 1 Kemiri
        • SMP VIP Ma’arif NU 1 Kemiri
        • SD VIP Ma’arif NU 1 Kemiri
        • PAUD Nusa Kemiri
    • Berita
      • Warta Pesantren
      • Opini & Refleksi
      • Wawancara
      • Unit Pendidikan
      • Pengumuman
    • Keislaman
      • Aqidah
      • Akhlak
      • Al Qur’an
      • Hadits
      • Tarikh
      • Fiqih
      • Aswaja
    • Risalah
    • Pena Santri
    Daarut Tauhied KemiriDaarut Tauhied Kemiri
    Home»Berita»Opini & Refleksi

    Tips Memilih Menu Sahur agar Tetap Bertenaga Seharian

    AdminBy AdminFebruari 20, 2026 Opini & Refleksi Tidak ada komentar4 Mins Read
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Pernahkah Anda merasa telah menyantap sahur dalam porsi besar hingga perut terasa sangat kenyang, namun belum memasuki siang hari perut sudah kembali terasa lapar dan tubuh menjadi lemas? Dalam kajian fisiologi, kondisi ini dikenal sebagai hipoglikemia reaktif, yaitu keadaan ketika seseorang merasakan lapar berlebihan tidak lama setelah makan dalam jumlah banyak.

    Hipoglikemia reaktif umumnya terjadi ketika menu sahur didominasi oleh karbohidrat sederhana, seperti nasi putih dalam porsi besar, minuman manis, atau gorengan berbahan tepung. Jenis makanan tersebut menyebabkan kadar gula darah meningkat secara cepat. Sebagai respons, tubuh melepaskan hormon insulin dalam jumlah besar untuk menurunkan kadar gula darah secara drastis. Penurunan yang terlalu cepat inilah yang memicu sinyal kekurangan energi pada otak, sehingga muncul rasa lapar, lemas, dan sulit berkonsentrasi, bahkan sebelum waktu dzuhur tiba.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa rasa lapar saat berpuasa tidak selalu disebabkan oleh kurangnya jumlah makanan, melainkan oleh ketidaktepatan strategi dalam memilih komposisi nutrisi.

    Temuan tersebut sejalan dengan penelitian dalam jurnal internasional Nutrients (2022) berjudul Effects of Time-Restricted Feeding and Ramadan Fasting on Body Weight, Body Composition, and Glucose Responses. Studi tersebut menjelaskan bahwa pola makan tinggi karbohidrat sederhana memicu lonjakan insulin yang diikuti oleh penurunan gula darah secara cepat (glycemic crash), yang berdampak pada rasa lemas dan lapar di siang hari.

    Dengan demikian, kunci sahur yang optimal bukan terletak pada kuantitas makanan, melainkan pada kualitas nutrisi yang mampu menjaga stabilitas energi dan memperlambat proses pengosongan lambung. Kombinasi karbohidrat indeks glikemik rendah, protein berkualitas, serat, serta manajemen hidrasi yang baik menjadi strategi utama agar tubuh tetap bertenaga hingga waktu berbuka.

    Berikut beberapa rekomendasi praktis yang dapat diterapkan saat sahur:

    1. Pilih karbohidrat dengan indeks glikemik rendah

    Gantilah sumber karbohidrat sederhana seperti nasi putih atau roti putih dengan pilihan yang dicerna lebih lambat, seperti oatmeal, nasi merah, ubi jalar, atau roti gandum utuh. Karbohidrat jenis ini melepaskan energi secara bertahap sehingga membantu menjaga stamina lebih lama. Penelitian dalam Nutrients (2019) menunjukkan bahwa konsumsi makanan berindeks glikemik rendah saat sahur dapat meningkatkan rasa kenyang secara signifikan.

    2. Tambahkan asupan protein berkualitas

    Protein berperan sebagai pengendali rasa lapar alami. Nutrisi ini mampu menekan hormon ghrelin (pemicu rasa lapar) serta meningkatkan hormon peptida YY yang memberikan sinyal kenyang. Pastikan menu sahur mengandung sumber protein seperti telur, ikan, dada ayam, serta protein nabati seperti tempe dan tahu. Studi dalam Frontiers in Nutrition (2021) menegaskan bahwa asupan protein yang cukup membantu mempertahankan rasa kenyang selama Ramadhan.

    3. Sertakan serat larut dalam menu

    Serat larut membantu memperlambat proses pengosongan lambung dengan membentuk tekstur menyerupai gel di dalam sistem pencernaan. Kondisi ini membuat perut terasa kenyang lebih lama sekaligus membantu menjaga kestabilan gula darah. Sumber serat yang baik antara lain alpukat, brokoli, kacang-kacangan, serta biji-bijian. Penelitian dalam PLOS One (2025) menunjukkan bahwa manajemen asupan serat berkontribusi pada stabilitas energi dan mengurangi kelelahan saat berpuasa.

    4. Terapkan manajemen hidrasi yang optimal

    Hidrasi yang baik tidak hanya bergantung pada jumlah air yang diminum, tetapi juga pada cara mengonsumsinya. Minum air dalam jumlah besar sekaligus dapat memicu diuresis (pengeluaran cairan lebih cepat oleh ginjal). Sebagai alternatif, konsumsi makanan yang kaya air dan elektrolit alami seperti semangka, mentimun, atau buah-buahan segar agar cairan dapat bertahan lebih lama di dalam tubuh. Kajian dalam Nutrients (2022) menekankan pentingnya keseimbangan cairan dan elektrolit selama berpuasa.

    Pada akhirnya, sahur bukan sekadar rutinitas mengisi lambung sebelum fajar, melainkan momentum strategis untuk mempersiapkan kondisi fisik agar mampu menjalankan ibadah puasa secara optimal. Memilih menu sahur yang bergizi merupakan bentuk ikhtiar dalam menjaga amanah kesehatan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Dengan tubuh yang tetap bugar dan energi yang stabil, aktivitas ibadah dan pengabdian sepanjang hari dapat dijalankan dengan lebih khusyuk, produktif, dan penuh keberkahan.

    nu.or.id

    Admin

    Keep Reading

    Kultum Ramadhan: Puasa dan Transformasi Spiritual Seorang Mukmin

    Mengenal Imam Al-Baghawi: Ulama Tafsir Penulis Kitab Ma’alimut Tanzil

    Macam dan Dalil Adanya Syafa’at Rasulullah SAW

    Science and Tech Reforms Priority for New Year

    Top Chinese Science and Tech Official Urges Priority on Research

    Virtual Reality Gaming Gets Bigger with Zero Latency’s Entry

    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    PILIHAN EDITOR

    Review: Record Shares of Voters Turned Out for 2020 election

    Januari 11, 2021

    EU: ‘Addiction’ to Social Media Causing Conspiracy Theories

    Januari 11, 2021

    World’s Most Advanced Oil Rig Commissioned at ONGC Well

    Januari 11, 2021

    Melbourne: All Refugees Held in Hotel Detention to be Released

    Januari 11, 2021
    BERITA TERBARU

    Queen Elizabeth the Last! Monarchy Faces Fresh Demand to be Axed

    Januari 20, 2021

    Marquez Explains Lack of Confidence During Qatar GP Race

    Januari 15, 2021

    Young Teen Sucker-punches Opponent During Basketball Game

    Januari 15, 2021
    Facebook Instagram WhatsApp TikTok
    • Berita
    • Keislaman
    • Risalah
    • Pena Santri
    © 2026 Daarut Tauhied 8 Kemiri

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.